JAWA BARAT — Memasuki usia balita, anak melewati fase pertumbuhan yang menuntut asupan nutrisi beragam. Sayangnya, di usia inilah banyak ibu menghadapi tantangan baru: si kecil mulai menolak makanan tertentu dan hanya mau mengonsumsi satu-dua jenis saja.
Kondisi ini wajar, tapi tetap perlu disiasati. Kebutuhan gizi harian anak tidak boleh sampai bolong hanya karena ia sedang rewel soal makanan.
Kebutuhan Nutrisi Balita Usia 1-3 Tahun
Merujuk Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG), kebutuhan energi dan zat gizi anak berbeda sesuai usia dan jenis kelamin. Pada usia 1-3 tahun, anak membutuhkan zat gizi makro dan mikro yang saling melengkapi.
Dokter Spesialis Anak dr. Leonirma Tengguna, M.Sc., Sp.A., CIMI, menjelaskan bahwa keduanya berperan penting untuk tumbuh kembang anak.
"Pada usia balita, kebutuhan nutrisi perlu dipenuhi dari zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral, serta zat gizi makro seperti protein, lemak, dan karbohidrat. Keduanya saling melengkapi untuk mendukung potensi kecerdasan, tumbuh kembang, daya tahan tubuh, dan kesehatan pencernaan," ujarnya.
Protein Hewani, Nutrisi Kunci di Masa Pertumbuhan
Protein menjadi salah satu zat gizi makro yang tidak boleh absen dari menu harian balita. Nutrisi ini berperan besar dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Sumber protein hewani bisa ibu dapatkan dari telur, ikan, daging, dan produk susu. Menurut Leonirma, susu pertumbuhan dapat menjadi salah satu sumber protein hewani yang melengkapi asupan nutrisi harian anak.
Meski begitu, susu bukan pengganti makanan utama. Pola makan yang beragam dan seimbang tetap prioritas, dengan susu sebagai pelengkap.
Tips Menghadapi Anak yang Pilih-Pilih Makanan
Menghadapi anak yang hanya mau makan satu jenis makanan memang menguji kesabaran. Tapi ada beberapa cara yang bisa ibu coba di rumah:
- Kenalkan jenis makanan baru secara bertahap, jangan sekaligus banyak.
- Jaga rutinitas makan yang teratur agar anak terbiasa dengan jadwal.
- Sajikan makanan dengan tampilan menarik supaya anak penasaran.
- Berikan contoh dengan makan menu yang sama di depan anak.
- Lengkapi asupan dengan susu pertumbuhan bila kebutuhan protein hewani belum tercukupi dari makanan.
Setiap anak punya kondisi dan kebutuhan berbeda. Karena itu, penting bagi ibu untuk mempertimbangkan kebutuhan nutrisi sesuai usia dan kondisi masing-masing anak, bukan sekadar mengikuti standar umum.
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter Anak
Jika anak menolak makan hampir semua jenis makanan dalam waktu lama, berat badannya tidak naik, atau ia tampak lemas dan mudah sakit, segera konsultasikan ke dokter anak. Penanganan dini membantu memastikan kebutuhan gizinya tetap terpenuhi.
Memenuhi nutrisi balita memang butuh kreativitas dan konsistensi. Dengan pola makan beragam, protein hewani yang cukup, dan dukungan susu pertumbuhan sebagai pelengkap, ibu bisa lebih tenang menjalani masa pilih-pilih makanan ini.