SUKABUMI — Program pengelolaan sampah berbasis warga di RW 1 Kelurahan Warudoyong tidak dimulai dari fasilitas besar. Warga memanfaatkan lahan pinjaman gratis untuk mengolah sampah organik menjadi maggot, yang kemudian dipakai sebagai pakan ternak bebek dan ayam.
Siklusnya berjalan berlapis: sampah organik jadi media budidaya maggot, maggot menjadi pakan ternak, sementara sampah anorganik dipilah lewat bank sampah agar tidak langsung berakhir di TPA Cikundul.
Lurah Warudoyong Nuke Nurulaini menjelaskan budidaya maggot dimulai dari pengelolaan lalat hingga menghasilkan telur. Telur itu lalu dibudidayakan dengan sampah organik sebagai media pakan.
Maggot yang tumbuh dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan bebek dan ayam warga. Dampaknya terlihat pada perkembangan ternak yang semakin bertambah, hingga pengelola mulai memperluas area peternakan.
"Alhamdulillah, sekarang bebeknya sudah mulai banyak. Karena protein dari magot ini bagus, perkembangannya juga cepat. Kami sudah mulai memperluas area untuk tempat beternak bebek," kata Nuke.
Budidaya maggot membuka rantai kegiatan produktif bagi warga, mulai dari pemilahan sampah, penyediaan pakan ternak, hingga peluang pendapatan dari penjualan bebek dan telur.
Ketika populasi ternak mencukupi, hasil peternakan direncanakan dipasarkan ke masyarakat. Telur bebek berpotensi dijual kepada pedagang jamu, sementara hasil yang tersedia saat ini turut membantu kebutuhan pangan warga sekitar.
"Kalau bebeknya sudah banyak, rencananya kami jual bebeknya dan telurnya juga dijual ke tukang jamu. Jadi ada nilai ekonominya. Yang penting masyarakat bisa bekerja sama dan merasakan manfaatnya," tutur Nuke.
Pengelolaan dilakukan secara berkelompok dengan ketua RW sebagai penanggung jawab, bersama unsur RT, Linmas, dan warga setempat. Dukungan datang dari warga yang meminjamkan lahannya secara gratis untuk pengolahan sampah dan peternakan.
Lahan itu dapat digunakan selama pemiliknya belum membutuhkan kembali, dengan kesepakatan kebersihan dan perawatan tetap dijaga. Kolaborasi tersebut menunjukkan pengelolaan sampah tidak selalu butuh investasi mahal.
Untuk material anorganik, warga mengembangkan bank sampah agar setiap jenis sampah memperoleh penanganan sesuai. Pemilahan sejak sumber diharapkan mengurangi residu yang berakhir di TPA Cikundul.
Pengembangan berikutnya diarahkan pada pemanfaatan mesin pencacah plastik bantuan Pemerintah Kota Sukabumi. Mesin itu diharapkan meningkatkan nilai jual plastik sekaligus membuka pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Namun mesin belum dapat dioperasikan karena memerlukan pasokan listrik dengan daya memadai serta penataan lokasi. Pihak kelurahan mulai berkoordinasi dengan PLN untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
"Target kami pada 2027, sampah anorganik dari seluruh wilayah Kelurahan Warudoyong bisa masuk ke RW 1 untuk dikelola. Tempatnya sudah ada, tinggal ditata, dan kami sedang mengupayakan kebutuhan listrik untuk mesin pencacah plastik," ungkap Nuke.
Meski telah menunjukkan hasil, pengelolaan sampah berbasis masyarakat masih menghadapi tantangan. Salah satunya membangun kebiasaan memilah sampah di tingkat rumah tangga agar alur pengolahan tetap konsisten.
Prestasi juara pertama tingkat Kota Sukabumi menjadi penanda bahwa perubahan bisa dimulai dari lingkungan terkecil. Modal utamanya bukan fasilitas mahal, melainkan keterlibatan warga dan pemanfaatan lahan yang tersedia.