BANDUNG — Perjalanan pendidikan Ainun tidak berhenti pada gelar sarjana sejarah yang diraihnya di UPI sekitar 23 tahun lalu. Kini ia kembali ke almamaternya untuk menuntaskan Program Studi Pendidikan Khusus S2, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPI. Pilihan bidang studi itu berkaitan erat dengan pekerjaannya sebagai guru di SLB Negeri Tasikmalaya.
Latar belakang pendidikan sejarah dan pengalaman mengajar di sekolah luar biasa mendorongnya memperdalam pengetahuan yang sesuai dengan lapangan kerja. "Cuma kan ngajarnya dari awal saya di SLB ya, makanya sekarang ada kesempatan ngambil S2 di Pendidikan Khusus biar sesuai dengan lapangan kerjanya, tempat kerjanya," tutur Ainun, Rabu (21/10/2026).
Sebagai penyandang disabilitas netra, Ainun merasakan perbedaan besar antara pengalaman kuliah sarjana dan magister. Dua dekade lalu, komputer bicara dan perangkat pembaca layar belum tersedia seperti sekarang. Ia masih mengandalkan bantuan reader untuk mengakses materi dan menyelesaikan tugas.
Kali ini, Ainun menggunakan laptop dengan perangkat lunak NVDA (NonVisual Desktop Access). Teknologi tersebut membantunya mengakses informasi di layar dan mengerjakan tugas secara mandiri. "Sekarang kan udah ada komputer bicara, ya laptop yang pakai pembaca layar NVDA. Jadi untuk mengetik tugas, ngerjain tugas bisa sendiri. Tidak terlalu mengandalkan reader atau orang melihat," ujarnya.
Bagi Ainun, teknologi bukan sekadar alat menyelesaikan tugas kuliah. Ia melihatnya sebagai sarana mengikuti perkembangan pengetahuan dan meningkatkan kemampuan diri. Pesan itu pula yang ia sampaikan kepada mahasiswa penyandang disabilitas, khususnya generasi muda, agar tidak tertinggal perkembangan teknologi.
Kembali ke UPI setelah lebih dari dua dekade berarti beradaptasi dengan lingkungan yang telah berubah. Sejumlah bangunan bertingkat dan perubahan tata ruang membuat Ainun perlu mengenali kembali jalur serta lingkungan kampus. "UPI yang sekarang sama UPI zaman dulu itu beda sekali," ujarnya.
Orientasi dan mobilitas menjadi bagian penting dalam aktivitasnya di lingkungan yang tidak lagi sama. Ainun mengapresiasi keramahan orang-orang di kampus yang membantunya selama menjalani studi.
Pengalaman sebagai guru di SLB Negeri Tasikmalaya membuat Ainun memahami tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas. Sebagian masyarakat masih memandang mereka seolah memiliki kemampuan lebih rendah dibandingkan orang tanpa disabilitas. Padahal, setiap individu memiliki kemampuan dan bakat yang dapat berkembang bila memperoleh kesempatan, pendidikan, serta pelatihan yang sesuai.
"Padahal mereka juga mungkin banyak kemampuan-kemampuan terpendam, bakat-bakat terpendam yang harus digali," ungkap Ainun.
Ia juga mengajak para orang tua yang memiliki anak penyandang disabilitas agar tidak berkecil hati. Anak-anak mereka tetap perlu diberi kesempatan menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. "Jadi tetap semangat menyekolahkan anak-anaknya, menguliahkan anak-anak," pesannya.
Perjalanan Ainun menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan berperan penting membuka kesempatan. Masyarakat perlu memberikan ruang setara bagi penyandang disabilitas untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan berkontribusi sesuai potensi masing-masing.