Layanan Kesehatan Balita Saat Karhutla: 62.400 Kasus ISPA Jadi Alarm

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Jumat, 16 Oktober 2026 | 09:50:31 WIB
Balita di wilayah terdampak karhutla berisiko tinggi mengalami ISPA karena saluran napasnya masih berkembang.

JAWA BARAT — Sebanyak 62.400 anak usia 0–5 tahun di tujuh provinsi terdampak karhutla tercatat mengalami ISPA per 12 Oktober 2026. Angka ini memicu desakan agar layanan kesehatan balita di wilayah kabut asap diperkuat, mulai dari ruang aman berudara bersih hingga distribusi masker dan tenaga medis.

Kementerian Kesehatan mencatat total 277.075 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 12 Oktober 2026. Dari jumlah itu, 22,5 persen atau setara 62.400 kasus menimpa anak usia 0–5 tahun.

Data tersebut mendorong Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian meminta pemerintah memperkuat layanan kesehatan bagi bayi dan balita di wilayah terdampak. Ia menilai situasi kabut asap yang berkepanjangan tidak boleh dianggap sebagai hal biasa.

Mengapa Balita Paling Rentan di Tengah Kabut Asap

Balita menghirup udara dua kali lebih banyak per menit dibanding orang dewasa, sementara saluran napasnya masih berkembang. Kondisi ini membuat mereka lebih mudah mengalami infeksi pernapasan saat terpapar partikel asap dalam waktu lama.

Hetifah menyoroti hal serupa. "Banyak keluarga harus menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kabut asap, sementara kesehatan anak-anak balita ikut terancam. Kita tidak boleh menganggap situasi yang berkepanjangan ini sebagai sesuatu yang biasa," katanya saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Gejala ISPA pada balita yang perlu diwaspadai meliputi batuk berdahak, napas cepat, demam, dan sesak. Pada bayi, tanda bahaya bisa berupa rewel berlebihan, sulit menyusu, atau tarikan dinding dada saat bernapas.

Langkah yang Sudah Berjalan di Lapangan

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan data ISPA terus dipantau untuk mendeteksi peningkatan kasus. Kemenkes bersama pemerintah daerah memperkuat pemantauan penyakit, pelayanan kesehatan, kesiapan fasilitas kesehatan, serta distribusi logistik.

Per 12 Oktober 2026, tercatat mobilisasi 2.106 tenaga medis dan kesehatan ke wilayah terdampak. Pemerintah pusat dan daerah juga mendistribusikan lebih dari 2,8 juta masker dari berbagai sumber.

Hetifah mendesak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengambil langkah lebih aktif bersama Kemenkes, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan pemerintah daerah. Sebagai wakil rakyat dari Kalimantan Timur, ia menyebut masyarakat Kalimantan turut merasakan dampak karhutla.

Ruang Aman Berudara Bersih untuk Balita

Salah satu permintaan spesifik Hetifah adalah ketersediaan ruang aman dengan udara bersih yang bisa dijangkau keluarga terdampak. Ruang ini penting karena bayi dan balita belum bisa memakai masker dewasa dengan benar.

Untuk di rumah, ibu bisa menyiapkan satu ruangan dengan jendela dan pintu tertutup rapat, lalu memasang air purifier jika tersedia. Bila tidak ada, basahi kain dan tutup celah ventilasi untuk mengurangi masuknya asap.

Bayi di bawah dua tahun sebaiknya tidak diajak keluar rumah saat indeks kualitas udara berada di level tidak sehat. Bila harus keluar, gunakan pelindung khusus bayi dan batasi waktu di luar ruangan sesingkat mungkin.

Kapan Harus Segera ke Dokter

Bawa balita ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul napas cepat atau berbunyi, tarikan dinding dada, bibir kebiruan, lemas, atau tidak mau menyusu lebih dari enam jam. Jangan menunggu gejala memburuk karena ISPA pada balita bisa berkembang cepat.

Untuk gejala ringan seperti batuk dan pilek tanpa sesak, cukup berikan cairan lebih banyak, jaga asupan makan, dan pantau suhu tubuh. Bila dalam dua hingga tiga hari tidak membaik, tetap konsultasikan ke dokter.

Keselamatan anak menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar selama bencana karhutla berlangsung. Memastikan balita mendapat udara bersih, akses layanan kesehatan, dan perlindungan memadai adalah langkah paling mendasar yang bisa dilakukan keluarga maupun pemerintah.

Reporter: Sigit Wicaksono
Sumber: antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top