GARUT — Musyawarah anggota memutuskan Ardhy Firdian sebagai ketua tanpa melalui pemungutan suara. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut itu menerima mandat memimpin himpunan alumni Institut Pertanian Bogor di Garut selama empat tahun ke depan.
Arah organisasi ikut bergeser. Jika sebelumnya kegiatan didominasi pertemuan dan reuni, pengurus baru menargetkan himpunan ini masuk ke ruang perumusan kebijakan daerah.
Ardhy menegaskan mandat dari anggota cukup tegas soal peran organisasi ke depan.
"Mandat dari anggota sangat jelas. Kami ingin komunitas ini memiliki peran nyata dan strategis bagi pembangunan Kabupaten Garut, terutama di sektor pertanian," kata Ardhy usai musyawarah.
Sekitar 250 alumnus IPB tercatat beraktivitas di Kabupaten Garut. Mereka tersebar di instansi pemerintahan maupun korporasi swasta dengan latar keilmuan yang beragam.
Keragaman bidang itu dinilai sejalan dengan kebutuhan teknis pembangunan daerah. Namun, tidak semua lulusan masuk ke dalam basis data resmi organisasi.
Konsolidasi data dan penjaringan ulang lulusan IPB di Garut masuk daftar kerja prioritas kepengurusan baru. Tujuannya agar peta kepakaran anggota terbaca utuh sebelum dilibatkan dalam program kemitraan daerah.
Seminar dan forum diskusi tetap digelar seperti biasanya. Yang berubah adalah ujung dari proses itu: gagasan tidak lagi berhenti sebagai wacana di atas kertas.
Pengurus baru membidik hasil diskusi berujung pada formulasi kebijakan dan penerapan teknologi pertanian tepat guna. Dengan begitu, sumbangan pemikiran akademis bisa langsung menyentuh persoalan petani di lapangan.
Ardhy memimpin himpunan ini sambil menjabat sebagai kepala dinas. Posisi ganda itu dinilai membuka jalan pemangkasan sekat birokrasi, sehingga transfer inovasi dari kampus ke lahan bisa berjalan lebih cepat.
"Silaturahmi tetap penting untuk menjaga kekompakan, tetapi kami ingin kiprah organisasi ini jauh lebih besar dan berdampak. Kolaborasi antaralumni harus diperkuat agar kontribusi kita terhadap Garut semakin terasa," ujarnya.
Isu ketahanan pangan daerah sedang menjadi perhatian. Jaringan pakar yang terintegrasi dalam satu wadah dinilai bisa menjadi aset untuk merespons persoalan itu.
Bagi kepengurusan baru, ukurannya sederhana: seberapa jauh kepakaran akademis para alumnus menjawab kesulitan nyata petani Garut. Konsolidasi data anggota menjadi langkah pertama yang harus tuntas sebelum program kemitraan berjalan.