JAWA BARAT — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 26,61 miliar pada Agustus 2026, naik 6,72% dibanding periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ditopang ekspor nonmigas yang tumbuh 7,23%, terutama dari komoditas nikel, aluminium, serta besi dan baja. Kinerja ini menjaga tren positif ekspor nasional di tengah tekanan pada sektor migas dan pertanian.
Paragraf pembuka: Secara kumulatif, total nilai ekspor sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai US$ 193,64 miliar, tumbuh 4,74% dibanding periode yang sama tahun lalu. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan capaian itu dalam konferensi pers, Kamis (1/10). Pendorong utamanya bukan migas, melainkan industri pengolahan yang mencatat kenaikan signifikan.
Nilai ekspor migas justru turun 5,10% menjadi US$ 0,99 miliar. Sebaliknya, ekspor nonmigas naik 7,23% ke US$ 25,62 miliar. Ateng menyebut kenaikan tahunan ekspor Agustus 2026 ditopang komoditas nonmigas, terutama nikel dan barang daripadanya yang melesat 51,67% secara year-on-year dengan andil 1,84% terhadap total kenaikan ekspor.
Besi dan baja (HS 72) menyusul dengan kenaikan 20,38% dan andil 1,79%. Aluminium dan barang daripadanya (HS 76) mencatat lonjakan paling tajam, 206,78% secara year-on-year, dengan andil 1,59%.
Dari sisi sektor, industri pengolahan menyumbang US$ 22,29 miliar dari total ekspor nonmigas. Sektor pertambangan dan lainnya menyumbang US$ 2,79 miliar, sedangkan pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya US$ 0,53 miliar.
“Peningkatan nilai ekspor nonmigas utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan yang naik secara year-on-year-nya sebesar 12,48% dengan andil kenaikannya 9,92%,” ujar Ateng. Kenaikan itu berasal dari logam dasar bukan besi, nikel, aluminium, tembaga, serta kimia dasar organik.
Di sisi lain, sektor pertambangan dan lainnya turun 19,47% secara year-on-year. Sektor pertanian juga mengalami penurunan 11,64%, menandakan tekanan pada komoditas selain logam dan mineral olahan.
Kinerja ekspor Agustus 2026 menunjukkan struktur ekspor Indonesia kian bergeser ke produk olahan mineral. Hilirisasi nikel dan aluminium terbukti menjadi penopang utama, meski sektor migas dan pertanian masih menjadi beban. Angka ini menjadi sinyal bahwa permintaan global terhadap logam industri tetap kuat, sementara komoditas tradisional perlu perhatian lebih.