Model AI China Kuasai 57% Token Developer Global, AS Selidiki

Penulis: Taufik Rahman  •  Senin, 28 September 2026 | 17:17:31 WIB
Model AI asal China mendominasi 57% token developer global di platform OpenRouter.

JAWA BARAT — Model kecerdasan buatan asal China seperti DeepSeek, Z.ai, dan Alibaba kini mendominasi penggunaan di platform pengembang global, dengan pangsa token di OpenRouter melonjak ke 57%-67% pada pekan 14 September dari sebelumnya 6%-13% di Februari. Lonjakan adopsi ini memicu penyelidikan dua komite DPR AS yang menilai model China berpotensi menggeser pengaruh teknologi Washington di negara-negara berkembang.

Pergeseran lanskap AI global terlihat dari data dua platform pengembang utama yang melayani perusahaan lintas negara. Di OpenRouter, model-model China menyumbang mayoritas token yang dipakai perusahaan di AS, Eropa, dan kawasan Global South yang mencakup 82 negara. Sementara di Vercel, pangsa model China naik menjadi 55% pada Agustus, dibandingkan 11% pada Januari.

Pemicu Utama: Harga Lebih Murah

Faktor biaya menjadi pendorong terbesar di balik peralihan ini. Model open source China yang dirilis tahun ini dinilai mampu menangani kasus penggunaan tingkat lanjut berbasis agen, terutama untuk penulisan kode pemrograman.

"Model China kini cukup mumpuni untuk mengerjakan lebih banyak tugas dengan biaya jauh lebih rendah. Begitu sebuah model memenuhi standar kualitas untuk suatu pekerjaan, perbedaan harga tersebut akan sangat memikat," kata Harpreet Arora dari Vercel.

Peter Walker dari OpenRouter menambahkan model-model tersebut sangat hemat biaya dibandingkan sebagian besar model Amerika. Meski demikian, perusahaan masih tetap menggunakan model AS kelas atas untuk tugas-tugas yang lebih rumit.

Respons Washington dan Kekhawatiran Geopolitik

Dua Komite DPR AS tengah menyelidiki dampak lonjakan adopsi model AI China. Washington berupaya mempertahankan dominasi AI dengan membatasi perusahaan China membeli chip paling mutakhir, namun khawatir perusahaan-perusahaan tersebut mengakses chip Nvidia dari jarak jauh melalui data center luar negeri.

Metode distilasi, di mana model baru meniru model yang lebih lama dan mapan, juga menjadi perhatian. AS menilai AI China menghadirkan risiko ekonomi dan keamanan nyata.

"Kekhawatiran utama adalah integrasi model AI China akan menarik negara-negara lain ke lingkup pengaruh teknologi China yang kemudian mengeras jadi keberpihakan geopolitik," jelas Daniel Remler, peneliti di Center for a New American Security (CNAS).

Awal pekan ini, OpenAI dan Anthropic sama-sama mengumumkan deretan model baru yang lebih murah, sinyal bahwa kompetisi harga mulai direspons pemain AS.

Peluang Adopsi di Asia Tenggara

Pebisnis di kawasan Global South menjadi kelompok pengguna terbesar model AI China dalam beberapa pekan terakhir. Remler memprediksi Asia Tenggara berpotensi mencatat lonjakan adopsi signifikan.

"Asia Tenggara khususnya, mungkin akan mencatat lonjakan adopsi signifikan terhadap model AI China mengingat hubungan ekonomi dan budaya erat dengan China ditambah infrastruktur digital yang terus berkembang," kata Remler.

"Di mana pun itu, mulai dari Lagos, Sao Paulo, hingga Jakarta, para pengusaha dan pemerintah yang mencari model open source murah akan pertama kali menoleh pada AI buatan China," cetusnya.

Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping minggu ini menjadikan AI sebagai salah satu fokus utama pembahasan. Bagi pelaku bisnis digital Indonesia, dinamika ini membuka opsi model AI berbiaya rendah sekaligus menghadirkan pertimbangan geopolitik dalam pemilihan vendor teknologi.

Reporter: Taufik Rahman
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top