BANDUNG — Wali Kota Muhammad Farhan memimpin langsung peringatan Hari Jadi ke-216 Kota Bandung dengan tema internasional "Solidarity in Harmony". Peringatan itu menjadi panggung bagi Pemkot Bandung mengumumkan sejumlah capaian sekaligus menandai arah baru tata kelola kota.
Prestasi paling menonjol datang dari sektor investasi. Kota Bandung menyabet peringkat ketiga Anugerah Layanan Investasi 2026 yang diberikan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
Farhan menilai lonjakan investasi tidak terjadi dalam semalam. Pemkot Bandung secara konsisten memangkas jalur birokrasi perizinan yang berbelit demi menjamin kepastian berusaha bagi investor.
Pembenahan kualitas pelayanan publik juga disebut menciptakan ekosistem bisnis yang lebih sehat dan transparan. Menurut Farhan, pintu gerbang kota harus senantiasa terbuka lebar bagi setiap gagasan segar.
"Bandung harus menjadi kota yang unggul dan terbuka. Terbuka terhadap berbagai inovasi dan investasi yang memberikan manfaat nyata bagi warga," tegas Farhan di hadapan para aparatur sipil negara.
Masuknya modal dan kepercayaan bisnis nasional itu bermuara pada perluasan lapangan kerja baru bagi warga lokal. Pertumbuhan ekonomi yang inklusif disebut sebagai fondasi utama dalam mewujudkan visi besar "Bandung Utama".
Kendati demikian, Farhan mengingatkan jajarannya agar tidak cepat berpuas diri. Prestasi di bidang investasi harus menjadi pemacu semangat untuk merawat integritas birokrasi.
Pada momen yang sama, sejumlah ASN menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya dari Presiden RI. Penghargaan itu dinilai merefleksikan dedikasi nyata aparatur dalam mengawal pembangunan.
Pemkot Bandung memperkenalkan aplikasi terintegrasi bernama "Halo Bandung" sebagai jawaban atas tuntutan kecepatan birokrasi. Platform tunggal ini merangkum seluruh lini pelayanan publik agar bisa diakses warga secara instan.
Warga tidak perlu lagi berpindah-pindah aplikasi untuk mengurus berbagai keperluan administrasi harian. Farhan menyebut aplikasi itu sebagai upaya membangun pemerintahan yang responsif, terbuka, dan akuntabel.
"Melalui aplikasi ini kita dapat mengakses berbagai informasi dan layanan untuk warga Kota Bandung dalam satu platform. Halo Bandung adalah upaya untuk membangun pemerintahan yang responsif, terbuka, accountable, dan transparant," jelas Farhan.
Transformasi digital itu berbanding lurus dengan capaian di sektor administrasi kependudukan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menganugerahi Pemkot Bandung predikat Adminduk Prima Terbaik I untuk kategori wilayah berdensitas penduduk tinggi.
Pemkot Bandung juga mengoleksi penghargaan Drestanta Arindama berkat keunggulan tata kelola kependudukannya. Penghargaan bagi Petugas Front Office Adminduk Prima turut melengkapi rangkaian prestasi pelayanan dasar tersebut.
"Lewat pelayanan prima administrasi kependudukan, kita memastikan hak-hak dasar warga negara terlindungi dan mendapatkan kepastian hukum yang baik," ujar Farhan.
Di balik gemerlap prestasi digital dan investasi, persoalan sampah perkotaan masih membayangi. Farhan secara terbuka mengakui tantangan ekologis itu menuntut penanganan sistematis yang menyentuh akar rumput.
Pemkot Bandung menilai pembangunan fisik megah tidak akan berarti jika kebersihan lingkungan terabaikan. Pendekatan kolaboratif lintas sektor dikerahkan untuk membenahi tata kelola lingkungan dari hulu.
Jurus utama yang dipakai adalah Gerakan Bandung Selatan Mengolah Sampah Mandiri (Gaslah). Program kerakyatan ini berfokus pada pemilahan dan pengolahan sampah organik langsung dari sumbernya di tingkat rumah tangga.
Sebagai pendukung, pemerintah menyiapkan pembangunan sarana pengomposan di hampir 10.000 titik RT di seluruh penjuru kota. Langkah itu dipadukan dengan adopsi teknologi termal serta Solid Recovered Fuel (SRF) bekerja sama dengan pemerintah pusat.
Pembangunan infrastruktur dan ekologi modern berjalan beriringan dengan pelestarian identitas budaya lokal. Kota Bandung resmi berdiri pada 1810 dan kini merawat memori kolektif panjang sebagai bagian dari sejarah kebangsaan.
Semangat kebangsaan dari era Paris van Java, heroisme Bandung Lautan Api 1946, hingga api persaudaraan Konferensi Asia Afrika 1955 dihidupkan kembali sebagai energi gerak kolektif.
Pemilihan tema berbahasa Inggris disebut Farhan sebagai cara memberi kesan bahwa Kota Bandung berdiri sebagai bagian dari masyarakat global, tanpa melepas akar sejarahnya sendiri.