GARUT — Sebanyak 495 rumah mengalami kerusakan saat gempa berkekuatan M 4,3 mengguncang Garut pada 1 Februari 2023 sekitar pukul 22.57 WIB. Data BPBD Garut mencatat kerusakan itu tersebar di wilayah yang dilalui Sesar Garsela. Gempa serupa kembali terjadi pada 7 Desember 2024 dengan magnitudo M 4,2.
BMKG mencatat dampak gempa kedua dalam Katalog Gempa Bumi Signifikan Merusak 1821-2025: 110 rumah rusak sangat ringan, 31 rumah rusak ringan, dan 9 rumah rusak sedang. Dua kejadian itu menjadi penanda bahwa Sesar Garsela bukan sekadar wacana kebencanaan di atas kertas.
Laporan setebal hampir 300 halaman milik BPBD Jawa Barat menempatkan Garut sebagai kabupaten dengan potensi kerugian fisik tertinggi di provinsi itu akibat gempa bumi. Nilainya Rp 39.765.786.760.000 atau Rp 39,7 triliun, dengan luas bahaya tinggi gempa mencapai 185.637 hektare.
Dari total 2,75 juta jiwa warga Garut, 66 persen atau sekitar 1,82 juta jiwa masuk klasifikasi ekonomi menengah ke bawah. Kondisi itu membuat upaya membangun ulang rumah dengan standar tahan gempa sulit dilakukan warga secara mandiri.
Kepala Pelaksana BPBD Garut Aah Anwar Saefulloh menyatakan bantuan bagi korban dua gempa tersebut sudah rampung didistribusikan. Sumber dananya berasal dari anggaran pemerintah pusat dan daerah.
"Yang rusak ringan dan sedang dari BNPB. Rusak sangat ringan serta fasilitas umum dari Pemkab Garut. Pencairannya sudah selesai secara bertahap. 40 persen, 30, 20, dan 10 persen," ungkap Aah.
Aah menyebut bantuan itu hanya memperbaiki fisik bangunan yang sebagian besar dibangun tanpa tulang beton penyangga. Hampir seluruh korban tidak membangun ulang rumahnya dengan standarisasi tahan gempa.
"Tidak (dibangun standar tahan gempa). Kalau rusak ringan, hanya memperbaiki yang ada. Kecuali kalau rusak berat, semuanya. Kalaupun ada yang swadaya, itu dipersilakan," katanya.
Menurut Aah, tidak ada rumah berkategori rusak berat akibat gempa 2024 berdasarkan pendataan BNPB. Indikator penilaian kerusakan mengacu pada data lembaga tersebut.
Kecamatan Pasirwangi menjadi wilayah paling rentan di antara kecamatan yang masuk zona Sesar Garsela. Kecamatan seluas 4.670 hektare dengan 67.975 jiwa penduduk itu mencatat kerusakan terbanyak dari dua gempa yang pernah terjadi.
Camat Pasirwangi Bambang Rudijanto menyebut dua desa paling terpapar, yakni Barusari dan Padaawas. Sebagian warga di kawasan sesar dan retakan sempat dievakuasi.
"Yang terpapar paling parah itu ada dua desa. Yakni Barusari, dan Padaawas. Itu sampai sempat dievakuasi sebagian, warga yang ada di daerah sesar dan retakan," ungkap Bambang.
Bambang menuturkan dampak terparah justru terjadi saat gempa M 5,0 Bandung pada 18 September 2024. Warga Barusari dan Padaawas mengungsi hingga sepekan karena khawatir gempa susulan.
"Atas instruksi dari PVMBG, seminggu saat itu baru boleh kembali. Setelah safety. Setelah tidak ada lagi pecahan atap yang akan terindikasi jatuh, kemudian tanah dipastikan tidak ada retakan atau sesar lagi," ungkap Bambang.
Dari seluruh bangunan terdampak, hanya dua yang tercatat direnovasi dengan standarisasi keamanan usai dihantam gempa. Keduanya adalah ruang kelas di SD Negeri 3 dan 4 Barusari, Kecamatan Pasirwangi.
Pasirwangi sendiri merupakan permukiman tertinggi di Garut dengan ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut. Sesar Garsela yang aktif di bawahnya bisa bergoyang kapan saja tanpa bisa diprediksi.