JAWA BARAT — Xiaomi menyiapkan tiga model mobil listrik untuk pasar global, termasuk Indonesia, setelah sukses di China dengan SU7, YU7, dan SU7 Ultra. Ketiga model menawarkan jarak tempuh hingga 900 km dan harga mulai Rp 530 juta, meski Xiaomi masih menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke pasar otomotif Indonesia. Konsumen yang menanti alternatif SUV dan sedan listrik dari merek teknologi ini punya alasan untuk bersabar.
Xiaomi tidak lagi sekadar produsen smartphone. Perusahaan asal China itu kini punya lini mobil listrik yang serius, dengan tiga model yang sudah dijual di kampung halamannya: SU7, YU7, dan SU7 Ultra. Ketiganya masuk radar ekspansi global, dan Indonesia disebut sebagai salah satu pasar yang dipertimbangkan.
Ekspansi ke pasar internasional memang baru dimulai. Xiaomi memilih Eropa sebagai tujuan pertama, sementara Indonesia masih dalam tahap penjajakan. Perusahaan menunggu momen yang tepat sebelum memulai penjualan resmi di pasar otomotif lokal.
Xiaomi memiliki tiga model BEV (battery electric vehicle) yang sudah terbukti di pasar China. Masing-masing menyasar segmen berbeda, dari sedan hingga SUV dan versi performa tinggi.
SU7 menjadi model unggulan Xiaomi di pasar global. Jarak tempuhnya menembus 900 km dalam sekali pengisian daya penuh, dengan tampilan, fitur, dan kualitas yang diklaim premium. Harga di China mulai Rp 530 juta hingga Rp 740 jutaan, dan model ini terus mendapat penyegaran.
YU7 hadir sebagai SUV listrik pertama Xiaomi. Model ini langsung mencetak rekor penjualan: 300 ribu unit terjual dalam satu jam setelah peluncuran. Dengan harga sekitar Rp 670 jutaan, YU7 dinilai cocok untuk pasar Indonesia yang sedang tumbuh di segmen SUV listrik.
SU7 Ultra melengkapi lini sebagai sedan super. Akselerasi 0-100 km/jam hanya 1,9 detik, kecepatan maksimal 350 km/jam, dan jarak tempuh 630 km. Harganya di China sekitar Rp 1,4 miliar, jauh lebih mahal dari SU7 standar.
Pasar SUV listrik Indonesia masih tumbuh subur, membuat YU7 sebagai kandidat paling masuk akal untuk dibawa masuk. Peminat mobil sedan listrik di dalam negeri tidak sebesar SUV, sehingga Xiaomi perlu pertimbangan ekstra sebelum menghadirkan SU7 dan SU7 Ultra.
Meski begitu, SU7 adalah hero model Xiaomi di pasar roda empat. Kehadirannya di Indonesia sulit dihindari jika Xiaomi serius melakukan ekspansi penuh. SU7 Ultra juga berpotensi menjadi gebrakan di segmen mobil super, mengingat BYD belum membawa Yangwang U9 ke pasar Indonesia.
Xiaomi membuktikan bahwa produsen teknologi bisa mengembangkan mobil listrik sendiri. Dari dua merek smartphone yang berhasil masuk ke industri otomotif, Xiaomi menjadi salah satunya. Penerimaan pasar China terhadap produk BEV-nya menunjukkan hasil positif.
Untuk pasar Indonesia, kehadiran Xiaomi di segmen mobil listrik akan menambah pilihan konsumen. Harga yang kompetitif dan spesifikasi yang menarik menjadi daya tarik utama, terutama bagi pembeli yang mencari kendaraan listrik dengan nilai lebih.
Keputusan akhir soal model mana yang masuk Indonesia masih menunggu waktu. Yang jelas, ketiga model ini sudah terbukti di pasar asalnya dan siap bersaing jika Xiaomi memutuskan untuk membawa mereka ke jalanan Indonesia.