JAWA BARAT — Melihat anak lahap menyantap nasi sepiring penuh memang bikin senang, apalagi setelah ia beraktivitas seharian di sekolah. Namun, sebagai orang tua, kita perlu jeli. Video anak sekolah dengan porsi nasi yang tampak menggunung di warung makan sempat viral. Banyak yang mengaggapnya lucu, tapi di balik itu, ada pesan kesehatan penting yang perlu ibu perhatikan.
Kebiasaan makan karbohidrat berlebihan dalam satu waktu, seperti sepiring nasi yang sangat banyak, bukan tanpa risiko. Dokter spesialis gizi klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, memberikan peringatan tegas mengenai dampak jangka panjangnya.
Tubuh kita mengubah nasi menjadi glukosa atau gula darah untuk energi. Masalah muncul ketika jumlahnya terlalu banyak dalam sekali makan. Kadar gula darah akan melonjak tinggi seketika setelah makan.
"Karbohidrat dalam jumlah besar bisa meningkatkan gula darah cukup tinggi setelah makan," jelas dr. Yaze dalam keterangannya.
Lonjakan gula darah yang terjadi terus-menerus setiap hari akan membuat kerja hormon insulin semakin berat. Akibatnya, sel-sel tubuh menjadi kebal terhadap insulin, kondisi ini dikenal dengan resistensi insulin. Jika dibiarkan, ini adalah pintu masuk menuju prediabetes dan diabetes melitus tipe 2.
Bahaya terbesar dari kebiasaan ini adalah tidak adanya gejala yang khas di awal. Anak atau orang dewasa mungkin tetap merasa bugar dan tidak menyadari gangguan gula darah yang sudah mulai terjadi.
"Kalau sebanyak ini, kalau jadi kebiasaan, bisa jadi masalah. Meskipun sekarang orangnya merasa sehat-sehat aja," ujar dr. Yaze menegaskan.
Gejala baru biasanya muncul saat kondisi sudah berlanjut. Beberapa keluhan yang patut diwaspadai antara lain sering merasa haus, buang air kecil terus-menerus, mudah lapar, dan tubuh yang cepat lelah. Jika Si Kecil mulai sering mengeluh seperti ini, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter.
Kabar baiknya, ibu tidak perlu panik atau serta-merta menghilangkan nasi dari menu harian anak. Nasi tetap aman dikonsumsi selama jumlahnya sesuai dengan kebutuhan tubuh.
"Jadi, nasi bukan berarti nggak boleh, tapi harus sesuai dengan kebutuhan tubuh kita," kata dr. Yaze.
Kuncinya adalah keseimbangan. Terapkan panduan "Isi Piringku" dari Kementerian Kesehatan agar satu piring makan tidak didominasi karbohidrat. Pastikan setengah piring diisi sayur dan buah, dan sisanya diisi lauk tinggi protein serta nasi dalam porsi wajar. Untuk anak usia sekolah, kebutuhan energinya memang tinggi untuk tumbuh kembang, tetapi tetap harus disesuaikan dengan usia dan aktivitas fisik hariannya.