JAWA BARAT — Menjadi ibu muda dengan anak yang cerdas dan mandiri tentu membanggakan. Namun, saat Si Kecil lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di kamar daripada bermain dengan teman sebaya, pertanyaan besar pun muncul di benak Bunda: apakah ini bagian dari kepribadiannya, atau justru tanda bahaya yang perlu dikhawatirkan?
Setiap anak memiliki kebutuhan sosial yang berbeda. Ada yang benar-benar menikmati kesendirian untuk mengisi ulang energinya, dan ada pula yang sebenarnya mendambakan pertemanan tapi kesulitan memulai interaksi.
Menurut Dr. Tali Shenfield, pakar psikologi dari Advanced Psychology, jika anak tampak puas tenggelam dalam hobinya atau lebih suka bergaul dengan satu dua teman dekat yang sepemikiran, kemungkinan besar ia hanya menunjukkan ciri khas anak berbakat. Ini adalah kondisi yang sehat dan wajar, Bunda.
Kekhawatiran muncul ketika kesendirian bukan lagi pilihan, melainkan keterpaksaan. Anak-anak sensitif yang gagal berbaur sering mengembangkan rasa rendah diri yang menghambat potensi mereka.
"Kurangnya kepercayaan diri menghambat mereka di tempat yang seharusnya mereka bisa sukses. Beberapa anak bahkan sampai menolak bakat mereka dan sengaja berprestasi buruk dalam upaya untuk berbaur dengan teman sebaya," jelas Shenfield.
Pada kondisi yang lebih serius, anak yang merasa ditolak bisa rentan terhadap penggunaan narkoba dan perilaku berisiko. Sebaliknya, ada pula yang semakin menarik diri dan tenggelam dalam depresi.
Bunda perlu waspada jika Si Kecil menunjukkan beberapa tanda berikut ini:
Faktor risiko lain yang memperberat kondisi ini meliputi kecemasan sosial, perundungan, trauma, atau kondisi perkembangan seperti autisme yang belum ter