BANDUNG — Abah Anton menilai pendekatan budaya menjadi cara paling efektif untuk menghapus sekat antara masyarakat Tionghoa dan Sunda di Jawa Barat. Pandangan itu disampaikan saat mengunjungi Pusat Budaya Tionghoa Bandung bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Menurutnya, ruang interaksi budaya mampu mempertemukan warga dari berbagai latar belakang tanpa memandang ras, etnis, maupun agama. Ia menegaskan bahwa semangat persatuan melalui budaya sejalan dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.
Abah Anton menilai cara pandang yang membedakan kelompok mayoritas dan minoritas sudah tidak sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini. Menurutnya, budaya menjadi jembatan yang menyatukan seluruh elemen bangsa tanpa sekat.
“Di masa kini sudah bukan zamannya ada istilah mayoritas-minoritas. Melalui budaya semuanya menjadi satu, bangsa Indonesia,” ujar Abah Anton.
Keberadaan Pusat Budaya Tionghoa Bandung dinilai tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperkenalkan sejarah dan tradisi Tionghoa. Tempat itu juga menjadi ruang bertemunya berbagai unsur kebudayaan, termasuk budaya Sunda.
Akulturasi antara budaya Sunda dan Tionghoa dapat berlangsung positif ketika kedua komunitas saling mengenal, menghargai, dan berkolaborasi. Proses tersebut pada akhirnya memperkaya khazanah budaya Jawa Barat.
Dalam kunjungan tersebut, para peserta menyempatkan diri melihat museum Pusat Budaya Tionghoa. Kegiatan dilanjutkan dengan makan siang bersama serta menikmati pagelaran budaya Tionghoa.
Kehadiran Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam kegiatan itu menunjukkan dukungan pemerintah terhadap inisiatif yang menjadikan kebudayaan sebagai sarana memperkuat persatuan. Sebelumnya, KDM menegaskan bahwa budaya Tionghoa yang berkembang di Jawa Barat telah menjadi bagian dari dinamika budaya Sunda.
Menurutnya, Pusat Budaya Tionghoa di Bandung dapat menjadi ruang kolaborasi yang memperkaya budaya Sunda. Keberagaman tradisi di Jawa Barat diharapkan tidak lagi dipandang sebagai pemisah, melainkan modal sosial untuk membangun masyarakat yang semakin guyub.
Interaksi yang berlangsung secara terbuka disebut mampu mengikis prasangka sekaligus memperkuat pemahaman bahwa keberagaman merupakan bagian dari identitas Indonesia. Kolaborasi budaya Sunda dan Tionghoa diharapkan tidak hanya menghasilkan kekayaan seni dan tradisi, tetapi juga memperkuat semangat Guyub Rukun di Jawa Barat.