BANDUNG — Berbeda dengan kekhawatiran umum tentang maraknya pengangguran sarjana, data internal Unisba menunjukkan tingkat serapan lulusannya justru tinggi. Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., mengungkapkan bahwa masa tunggu lulusan untuk mendapat pekerjaan pertama relatif singkat.
“Kalau berdasar data yang kami miliki, pengangguran itu tidak lama. Paling di Unisba rata-rata satu bulan untuk pekerjaan pertama. Satu sampai tiga bulan itu cukup tinggi,” kata Harits saat ditemui dalam rangkaian Wisuda Gelombang II Tahun Akademik 2025/2026 di Bandung, Sabtu (22/8/2026).
Fenomena menarik lainnya, sejumlah mahasiswa bahkan telah mengantongi pekerjaan sebelum resmi menyandang gelar sarjana. Kondisi ini dinilai menjadi indikator kuat bahwa kurikulum yang dijalankan relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
Harits menjelaskan, tracer study bukan sekadar administrasi kampus. Kegiatan ini menjadi instrumen penting untuk melacak perjalanan alumni setelah lulus, terutama untuk mengukur berapa lama mereka berada dalam masa tunggu sebelum akhirnya bekerja.
Data ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi Unisba dalam menyelaraskan kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Semakin singkat masa tunggu, semakin tinggi relevansi pendidikan yang diberikan.
Di tengah kabar baik tersebut, Unisba juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi lulusan baru, khususnya dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Adaptasi terhadap teknologi menjadi syarat mutlak agar lulusan tetap kompetitif di pasar kerja yang berubah cepat.
Meski tidak merinci secara spesifik program yang disiapkan, pernyataan rektor menegaskan bahwa kesiapan mental dan keterampilan teknis menjadi kunci bagi lulusan untuk tidak terjebak dalam pengangguran panjang.