TASIKMALAYA — Aktivitas panen mendong tengah berlangsung di Desa Margaluyu, Kabupaten Tasikmalaya, seiring masuknya musim kemarau. Para petani memanfaatkan lahan sawah yang tidak ditanami padi untuk membudidayakan tanaman serat alam tersebut.
Tanaman mendong yang telah dipanen dan dijemur ini langsung diserap oleh sentra industri kerajinan di Kota Tasikmalaya. Kebutuhan bahan baku dari para perajin tikar mendong dan kerajinan tangan mencapai sekitar tiga ton per bulan.
Mendong kering hasil panen di tingkat petani dibanderol dengan harga Rp500 ribu hingga Rp800 ribu per kuintal. Fluktuasi harga tersebut bergantung pada kualitas dan tingkat kekeringan tanaman.
Musim kemarau menjadi momen strategis bagi petani di Tasikmalaya untuk membudidayakan mendong. Pasokan air yang cukup dari irigasi sawah tetap bisa diatur, sementara sinar matahari optimal membantu proses penjemuran hingga benar-benar kering.
Tanaman mendong sendiri dikenal sebagai bahan baku utama kerajinan anyaman khas Priangan Timur. Produk olahannya berupa tikar, tas, hingga aksesori rumah tangga kerap dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Barat dan luar pulau.