JAWA BARAT — FIFA kembali mengubah aturan main Piala Dunia, tapi hasilnya justru menuai kritik. Untuk edisi 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, federasi sepak bola dunia itu memakai head-to-head sebagai tiebreaker pertama di fase grup — menggantikan selisih gol yang digunakan sebelumnya. Keputusan ini dinilai menghilangkan ketegangan di laga penentuan grup.
Di Grup E, Jerman sudah memastikan tempat di babak 32 besar setelah mengalahkan Pantai Gading di pertandingan kedua. Berkat aturan baru, Pantai Gading tak bisa menyalip Jerman meski menang besar di laga terakhir — karena hasil head-to-head lebih diutamakan ketimbang selisih gol.
"Semua orang tahu aturan dengan selisih gol. Anda punya tiga pertandingan dan semuanya sama pentingnya. Sekarang, satu laga bisa jadi jauh lebih berharga, tapi Anda baru tahu yang mana di akhir," tulis Daniel Storey dari The i Paper yang meliput langsung turnamen ini.
Masalah yang lebih besar justru pada format turnamen. Dengan 48 tim, enam grup berisi empat tim menghasilkan 16 tim terbaik, plus delapan peringkat ketiga terbaik yang lolos. Akibatnya, Skotlandia dan Korea Selatan menjalani laga ketiga grup tanpa kepastian — mereka harus menunggu hasil pertandingan grup lain untuk tahu apakah masih bertahan.
Kondisi ini disebut Storey sebagai "limbo yang tidak masuk akal" dan lebih merusak kompetisi ketimbang kontroversi tiebreaker. Tim-tim yang sudah menyelesaikan fase grup harus menunggu berhari-hari sebelum tahu apakah mereka pulang atau lanjut.
FIFA sebenarnya sempat mempertimbangkan ekspansi ke 64 tim untuk merayakan 100 tahun Piala Dunia, tapi gagasan itu ditolak. Sebagai gantinya, format 48 tim dengan 96 laga grup dipertahankan — yang berarti 16 tim tersingkir setelah tiga pertandingan, sementara sisanya menunggu hasil dari grup lain.
Banyak pengamat menilai format 32 tim dengan babak 16 besar langsung adalah yang paling ideal. "Tidak ada peringkat tim peringkat ketiga, tidak ada penantian, tidak ada kerentanan aneh terhadap hasil grup lain," tulis Storey. Sayangnya, FIFA justru memilih jalan yang membuat turnamen kehilangan ritme dan ketegangan alaminya.