BOGOR — Dua proyek transportasi ikonik di Kabupaten Bogor memasuki tahap kajian serius. Bupati Bogor membeberkan bahwa pihaknya telah mematangkan sejumlah rencana pengembangan transportasi, termasuk jalur Kereta Api Jasinga dan Kereta Gantung Puncak. Rencana ini tidak hanya melibatkan PT KAI sebagai operator perkeretaapian nasional, tetapi juga menggandeng investor asing untuk pendanaan dan teknologi.
Jalur Kereta Api Jasinga menjadi salah satu prioritas dalam kajian ini. Rute ini direncanakan untuk menghubungkan kawasan selatan Kabupaten Bogor yang selama ini minim akses transportasi massal berbasis rel. Pemkab Bogor menilai, konektivitas ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Jasinga dan sekitarnya.
Kehadiran kereta api di jalur tersebut diyakini mampu memangkas waktu tempuh warga menuju pusat kota atau Stasiun Bogor. Selama ini, warga Jasinga dan sekitarnya hanya mengandalkan angkutan darat yang kerap macet di titik-titik tertentu.
Sementara itu, proyek Kereta Gantung Puncak menjadi solusi alternatif untuk mengurai kemacetan parah yang rutin terjadi di jalur wisata Puncak, terutama pada akhir pekan dan libur nasional. Pemkab Bogor menggandeng investor asing untuk menggarap proyek ini, mengingat kompleksitas teknis dan kebutuhan investasi yang besar.
Rencananya, kereta gantung ini akan membentang di kawasan lereng Gunung Gede-Pangrango, menghubungkan beberapa titik strategis di jalur Puncak. Dengan kapasitas angkut yang tinggi, moda ini diharapkan menjadi primadona baru bagi wisatawan yang ingin menikmati pemandangan tanpa harus terjebak macet berjam-jam.
Kajian terhadap dua proyek ini sebenarnya sudah bergulir sejak beberapa tahun lalu. Namun, berbagai kendala seperti pembebasan lahan, pendanaan, dan regulasi tata ruang kerap menghambat realisasi. Kini, dengan adanya kepastian keterlibatan investor asing dan KAI, Pemkab Bogor optimistis kajian teknis dan kelayakan lingkungan bisa segera rampung.
Bupati Bogor menekankan bahwa kedua proyek ini tidak hanya akan mengubah wajah transportasi di Bogor, tetapi juga menjadi model integrasi moda transportasi di daerah penyangga Jakarta. "Ini bukan proyek jangka pendek. Tapi kami ingin memastikan fondasinya kuat sejak awal," ujarnya dalam keterangan resmi.
Setelah kajian selesai, Pemkab Bogor akan menyusun studi kelayakan (feasibility study) dan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) secara paralel. Proses ini diperkirakan memakan waktu hingga satu tahun ke depan. Jika semua tahapan lolos, pembangunan fisik bisa dimulai pada 2026 atau 2027.
Masyarakat Bogor, khususnya pengguna jalur Puncak dan warga Jasinga, kini menanti realisasi dari rencana yang sudah lama digadang-gadang ini. Pemkab Bogor berjanji akan terus melibatkan publik dalam setiap tahapan perencanaan.