BOGOR — Puluhan Aparatur Sipil Negara (ASN) di RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang turun langsung membuat lubang biopori di tiga titik area rumah sakit pada Kamis (11/6/2026) pagi. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan praktik pengelolaan limbah domestik rumah sakit yang selama ini menjadi persoalan.
Sampah organik yang diolah berasal dari instalasi gizi rumah sakit. Potongan kulit buah, tangkai sayuran, hingga sisa makanan pasien dikumpulkan lalu dimasukkan ke dalam lubang biopori yang telah dibuat.
Proses ini mengubah sampah yang biasanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi pupuk alami yang menyuburkan tanah. Manajemen rumah sakit menyebut langkah ini sebagai bagian dari program berkelanjutan, bukan kegiatan musiman.
Pembuatan lubang biopori dipusatkan di Lapangan WR Supratman, Taman Samping Rawat Inap Baru, dan Taman Forensik. Pemilihan lokasi ini mempertimbangkan area hijau yang membutuhkan resapan air sekaligus pemupukan alami.
Para ASN yang tidak sedang bertugas dalam pelayanan medis menjadi peserta utama. Mereka mendapat edukasi singkat sebelum mempraktikkan langsung teknik pembuatan lubang biopori yang benar.
Aksi ini merupakan respons atas Surat Edaran Bupati Bogor Nomor 100.3.4.2/769 tentang pelestarian lingkungan. RSUD R. Moh. Noh Nur menjadi salah satu instansi pertama di Leuwiliang yang menerjemahkan edaran tersebut ke dalam aksi lapangan yang terukur.
Dengan sistem biopori, sampah organik tidak hanya terurai secara alami, tetapi juga membantu resapan air tanah. Ini menjadi solusi atas dua masalah sekaligus: sampah dan risiko banjir di musim hujan.
Manajemen rumah sakit berencana memperluas program ini ke seluruh unit pelayanan. Tidak hanya ASN, tenaga kesehatan dan petugas kebersihan juga akan dilibatkan dalam pengelolaan sampah organik berbasis biopori.
Jika konsisten, RSUD R. Moh. Noh Nur bisa mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA secara signifikan. Pupuk organik yang dihasilkan pun dapat dimanfaatkan untuk taman dan area hijau di lingkungan rumah sakit.