Harga Pertamax Naik, Sopir Pikap di Bondowoso Pilih Gowes Sepeda 10 Km Demi Tekan Biaya Harian

Penulis: Okta Nugraha  •  Jumat, 12 Juni 2026 | 09:11:01 WIB
Samsuri, sopir pikap di Bondowoso, memilih bersepeda 10 km demi menghemat biaya akibat kenaikan harga Pertamax.

JAWA BARAT — Kenaikan harga BBM jenis Pertamax mulai berdampak langsung pada kebiasaan warga di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Salah satu yang paling merasakan dampaknya adalah Samsuri, warga Desa Grujugan, Kecamatan Grujugan. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai sopir pikap di sebuah toko ritel ini kini memilih meninggalkan sepeda motornya di rumah dan beralih ke sepeda pancal.

Kombinasi Harga Mahal dan Antrean Memicu Keputusan Ekstrem

Menurut penuturan putranya, Samsudin, keputusan sang ayah bukanlah tanpa pertimbangan. Sebelumnya, Samsuri kerap bergantian mengisi motornya dengan Pertamax atau Pertalite, tergantung dari panjangnya antrean di SPBU. Namun, kondisi ekonomi yang tidak menentu ditambah dengan fenomena antrean mengular akibat migrasi konsumen ke Pertalite membuat kalkulasi hariannya tidak lagi masuk akal.

"Bapak mulai hari ini naik sepeda pancal ke toko," ujar Samsudin saat dikonfirmasi, Kamis (11/6/2026).

Jarak tempuh yang harus diayuh Samsuri setiap hari mencapai 10 kilometer pulang pergi. "Ya bagaimana lagi, situasi ekonominya begini," keluh Samsudin, menggambarkan kepasrahan yang juga dirasakan banyak warga lain di wilayah tersebut.

Tarif Ojek Lokal Naik Rp 1.000, Mitra Driver Serempak Beralih ke Pertalite

Dampak berantai kenaikan Pertamax juga menghantam sektor jasa transportasi. Dani, pemilik layanan ojek lokal bernama Bosjek, mengakui bahwa pihaknya terpaksa menaikkan tarif layanan sebesar Rp 1.000 untuk sekali antar. Langkah ini diambil untuk menjaga agar pendapatan mitra pengemudi tetap stabil di tengah tekanan biaya operasional.

Menurut Dani, seluruh mitra drivernya kini kompak beralih dari Pertamax ke Pertalite. "Sekarang pakai Pertalite semua," katanya. Konsekuensinya, para driver harus rela kehilangan waktu produktif karena terjebak antrean panjang di SPBU. Penyesuaian tarif ini, lanjut Dani, juga dipicu oleh melonjaknya harga berbagai kebutuhan pokok di pasaran yang ikut menekan daya beli para pengemudi.

Dilema Warga Bondowoso: Antara Waktu dan Uang

Fenomena di Bondowoso ini menjadi potret nyata dilema yang dihadapi masyarakat kelas menengah bawah. Di satu sisi, memilih Pertamax berarti membayar lebih mahal namun menghemat waktu. Di sisi lain, beralih ke Pertalite berarti harus bersabar dengan antrean panjang yang menguras jam kerja. Pilihan ketiga, seperti yang dipilih Samsuri, adalah keluar dari sistem BBM sama sekali dengan kembali ke sepeda kayuh.

Belum ada data resmi dari pemerintah daerah mengenai jumlah warga Bondowoso yang melakukan migrasi serupa. Namun, kisah Samsuri setidaknya menunjukkan bahwa penyesuaian harga BBM tidak hanya berhenti di SPBU, melainkan merembet ke pola transportasi dan pengeluaran harian warga.

Reporter: Okta Nugraha
Sumber: surabaya.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top