Tongseng Battembat Jadi Warisan Budaya Jabar 2026, Lahir dari Kreativitas Jagal Sapi di Cirebon

Penulis: Okta Nugraha  •  Senin, 08 Juni 2026 | 12:11:01 WIB
Tongseng Battembat, kuliner legendaris dari Cirebon, resmi menjadi Warisan Budaya Takbenda Jawa Barat 2026.

CIREBON — Dari 66 karya budaya yang ditetapkan Pemprov Jabar sebagai WBTb tahun 2026, nama Tongseng Battembat mungkin masih asing di telinga warga di luar Cirebon. Namun bagi masyarakat di kawasan Battembat dan Plered, semangkuk tongseng hangat menyimpan kisah panjang tentang denyut ekonomi dan akulturasi budaya di pesisir utara Jawa.

Berasal dari Sentra Jagal Sapi di Tengah Tani

Tongseng Battembat berasal dari Desa Battembat, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon. Daerah ini sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan dan penyembelihan sapi di wilayah Cirebon bagian barat.

Sejarawan Cirebon, Chaidir S. Susilaningrat, mengatakan kuliner ini lahir dari kecerdikan masyarakat setempat. "Dari situlah muncul kreativitas masyarakat dalam mengolah bagian-bagian sisa daging sapi menjadi masakan tongseng," ujarnya kepada detikJabar, Minggu (7/6/2026).

Bagian Sisa yang Disulap Jadi Hidangan Legendaris

Menurut Chaidir, para jagal memanfaatkan bagian daging yang tidak masuk kategori utama untuk dijual sebagai bistik atau olahan premium. Bagian yang tersisa kemudian diracik dengan rempah-rempah khas Nusantara menjadi hidangan lezat dan bernilai ekonomi.

Tradisi semacam itu bukan hal baru dalam sejarah gastronomi Nusantara. Banyak makanan legendaris lahir dari kemampuan masyarakat mengolah bahan sederhana menjadi sajian lintas generasi.

Akulturasi Budaya Arab dan Rempah Lokal

Chaidir menilai kemunculan Tongseng Battembat tidak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya Arab yang datang melalui jalur perdagangan di pesisir utara Jawa. Kebiasaan mengonsumsi daging kambing yang dibawa pedagang Arab berpadu dengan kekayaan bumbu lokal.

"Konon tongseng merupakan hasil akulturasi budaya Arab. Orang Arab memiliki tradisi mengonsumsi daging kambing, kemudian kebiasaan itu berkembang di masyarakat lokal. Yang membedakan adalah penggunaan rempah-rempah Nusantara yang sangat kaya," tutur Chaidir.

Berkembang Sejak Abad ke-18, Sejaman dengan Empal Gentong

Keberadaan Tongseng Battembat diperkirakan mulai berkembang pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Saat itu Cirebon memasuki fase kebangkitan ekonomi pada masa kolonial Belanda setelah mengalami pasang surut pasca era Sunan Gunung Jati.

"Pada masa-masa itu muncul kreativitas masyarakat dalam mengolah sisa-sisa daging menjadi makanan yang bisa dinikmati masyarakat luas. Empal gentong dan tongseng termasuk di antaranya," kata Chaidir.

Hingga kini jejak sejarah itu masih bisa ditemukan di sepanjang kawasan Tengah Tani. Deretan warung empal gentong dan tongseng masih berdiri, menjadi sakbis bagaimana kreativitas jagal sapi di Cirebon melahirkan warisan budaya yang diakui pemerintah.

Reporter: Okta Nugraha
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top