CIREBON — Deretan libur panjang sepanjang Mei 2026 belum mampu mendongkrak tingkat hunian hotel di Kota Cirebon secara signifikan. Momentum Hari Buruh Internasional, cuti bersama, hingga Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah yang bertepatan dengan penyelenggaraan event budaya Milangkala Tatar Sunda, tak kunjung mendorong kenaikan okupansi hotel.
Berdasarkan data PHRI Kota Cirebon, tingkat okupansi hotel selama periode libur 1 hingga 3 Mei 2026 rata-rata hanya mencapai 61 persen. Sementara pada long weekend 14 hingga 17 Mei 2026, okupansi hotel berada di angka 70 persen atau masih dalam kategori normal. Angka ini dinilai belum menggambarkan lonjakan yang berarti bagi industri perhotelan.
Ketua PHRI Kota Cirebon, Imam Reza Hakiki, mengungkapkan bahwa kondisi ini menjadi sinyal perlunya evaluasi strategi pariwisata daerah. “Selama bulan Mei 2026, okupansi hotel saat long weekend tidak ada kenaikan berarti. Bahkan sejak awal April 2026 kondisinya cenderung stagnan seperti hari biasa,” ujar pria yang akrab disapa Kiki, Kamis (28/5/2026).
Fenomena ini terlihat jelas saat pelaksanaan event Milangkala Tatar Sunda pada 3 Mei 2026. Meski kegiatan tersebut menghadirkan banyak tamu undangan dan pejabat dari berbagai daerah di Jawa Barat, okupansi hotel justru hanya mencapai 39,15 persen. “Padahal kami berharap event sebesar itu bisa berdampak pada okupansi hotel karena banyak tamu dan pejabat hadir di Kota Cirebon. Tapi kenyataannya tingkat hunian masih sangat rendah,” jelas Kiki.
Menurut Kiki, keberadaan event besar saja belum cukup jika tidak diikuti dengan pengemasan destinasi wisata yang matang, promosi masif, serta agenda kegiatan yang mampu membuat wisatawan memilih menginap lebih lama. “Kami berharap ada langkah konkret pemerintah untuk kembali menggairahkan sektor pariwisata dan meningkatkan daya tarik kunjungan ke Kota Cirebon,” paparnya.
PHRI mendorong penguatan promosi wisata heritage, wisata religi, wisata kuliner, hingga paket-paket wisata terpadu. Strategi ini diyakini mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan di Kota Cirebon yang selama ini kerap hanya menjadi kota persinggahan.
Stagnasi okupansi hotel disebut memiliki efek domino terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Sektor perhotelan memiliki keterkaitan erat dengan UMKM, kuliner, transportasi, hingga destinasi wisata lokal. “Kalau kunjungan meningkat, otomatis okupansi hotel juga akan bergerak dan ekonomi daerah ikut tumbuh,” kata Kiki.
PHRI optimistis Kota Cirebon sebenarnya memiliki potensi besar sebagai kota tujuan wisata di wilayah timur Jawa Barat. Letaknya yang strategis sebagai jalur penghubung antarkota dinilai menjadi modal penting untuk menarik wisatawan domestik maupun luar daerah. Namun tanpa dukungan promosi yang kuat dan agenda wisata yang berkesinambungan, potensi tersebut dinilai belum mampu memberikan dampak maksimal terhadap industri perhotelan.
Pelaku usaha hotel pun berharap pemerintah daerah dapat lebih agresif menghadirkan event berskala regional maupun nasional yang benar-benar mampu mendatangkan wisatawan dan meningkatkan tingkat hunian hotel di Kota Cirebon dalam beberapa bulan mendatang.