SUKABUMI — Prestasi di tingkat nasional kembali diraih oleh STIKes Sukabumi. Enam judul penelitian yang diajukan para dosen kampus kesehatan tersebut berhasil menembus pendanaan hibah Program BIMA 2026, sebuah ajang kompetitif dari pemerintah pusat.
Mayoritas penelitian yang lolos seleksi mengusung tema pengembangan model intervensi di bidang keperawatan dan kebidanan. Beberapa di antaranya bertujuan menghasilkan media, metode, atau pendekatan baru yang bisa langsung diterapkan di lapangan.
Yosep Purnairawan, dosen Program Studi Keperawatan yang menjadi salah satu penerima hibah, mengaku risetnya berangkat dari persoalan nyata di masyarakat. “Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur, bangga, dan semakin termotivasi setelah dinyatakan lolos pendanaan hibah Program BIMA 2026,” ujarnya.
Proses seleksi hibah BIMA disebut sangat ketat. Setiap proposal dinilai berdasarkan kebaruan ide, urgensi masalah, metodologi, serta luaran penelitian yang terukur.
Menurut Yosep, proposal harus menunjukkan kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik pelayanan kesehatan. “Persaingan tentu sangat ketat,” jelasnya.
Kampus pun memberikan dukungan penuh melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Mulai dari pembinaan tim, penyusunan proposal, pelaksanaan riset, hingga evaluasi berkala.
Ketua STIKes Sukabumi, Iwan Permana, menegaskan bahwa prestasi ini membuktikan perguruan tinggi di daerah tak kalah bersaing di level nasional. “STIKes Sukabumi memiliki kemampuan riset yang sejalan dengan rencana strategis kampus, sehingga kami berani bersaing di tingkat nasional,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan enam riset sekaligus ini menjadi momentum penting. Tidak hanya bagi para peneliti, tetapi juga bagi pengembangan ilmu kesehatan di Sukabumi dan sekitarnya.